ImageInaq Wahyudin, Rela Berjualan Ciloq Demi Pengobata...
Image

Inaq Wahyudin, Rela Berjualan Ciloq Demi Pengobatan Tumor Ganas Anaknya

Image
Bima, Nusa Tenggara Barat
Rp 0 terkumpul dari Rp 50.000.000
0 Donasi sudah berakhir

Penggalang Dana

Image
Image
Verified Organization

Hari-hari Wahyudin (18 th), seorang pelajar kelahiran Dusun Nggembe, Bolo, Kabupaten Bima dihabiskan di atas pembaringan. Ia tidak memiliki kuasa untuk menegakkan badannya yang terjangkit Tumor Ganas di tulang bagian belakang. Penyakit tersebut telah diidap oleh Wahyudin semenjak ia berada di kelas 2 Sekolah Menengah Pertama. Ia juga sempat mendapatkan pengobatan dan operasi, namun penyakitnya tidak kunjung terhenti. Tumor tersebut kerap kambuh dan Wahyudin kerap merasakan sakit yang tak terhingga.

Akibat dari penyakit tersebut, Wahyudin menjadi lumpuh, rambutnya rontok, dan pendidikannya terpaksa terhenti, karena ia harus menjalani pengobatan di Mataram. Tidak mudah bagi keluarga Wahyudin untuk melakukan pengobatan. Ibunya yang hanya pedagang cilok keliling, kerap merasa kekurangan untuk pengobatan, bahkan makan sehari-hari. Sedangkan semenjak Ayah dan Ibunya bercerai, Ayahnya sudah tidak berhubungan lagi dengan mereka.

Setelah ditinggal oleh Ayahnya, kini Ibunya lah yang menjadi tulang punggung keluarga. Beliau berjualan cilok yang ia buat sendiri ke kampung-kampung dengan berjalan kaki. Ia rela menyusuri jalan-jalan dari Pukul 10 Pagi hingga Pukul 10 Malam demi menghidupi keluarganya. Ibu Wahyudin sama sekali tidak merasa malu untuk melakukan hal tersebut, karena ia mengerti hidup harus berjalan bagaimana pun keadaannya.

Namun, setelah Tumor Ganas melumpuhkan Wahyudin, Beliau tidak berjualan lagi. Untuk menututupi kebutuhan sehari-hari, Wahyudin dan Ibunya mengandalkan uang dari pemberian keluarga dan tetangga yang merasa iba kepadanya. Semenjak Wahyudin sakit, saya tidak lagi berjualan cilok. Ayah Wahyudin sudah melepas tanggung jawab pada kehidupan Wahyudin. Ujar Ibu Wahyudin sambil meratapi nasibnya. Pada saat merujuk Wahyudin ke Mataram pun, Ia membeli tiket dari uang hasil urunan dari keluarganya.

Sudah 25 Hari Wahyudin dan Ibunya menunggu untuk mendapatkan giliran, namun penanganan belum juga ia dapatkan. Sementara nyeri di tubuhnya akibat dari Tumor Ganas tersebut semakin menjadi-jadi. Rencananya Wahyudin akan melakukan Komoterapi di RSUP Mataram. Untuk mengurangi biaya operasional, Wahyudin dan Ibunya memilih untuk menginap di RUSI (Rumah Singgah), salah satu program unggulan yang disediakan oleh Laz Dasi NTB untuk siapa saja yang ingin transit atau menunggu giliran untuk pengobatan.

Walaupun dalam keadaan berjuang melawan penyakitnya, Wahyudin sama sekali tidak menghilangkan kegembiraan di wajahnya. Ia juga kerap mendapatkan dukungan dari Para Guru dan Tteman-teman sekolahnya di Dompu untuk bertahan dan melawan penyakitnya tersebut. Oleh karena itulah, Wahyudin tidak merasa kesepian dan sendirian dalam perjuangannya. Terbukti ia selalu tabah menjalani berbagai macam pengobatan yang harus ia dapatkan.

  • Februari, 15 2022

    Campaign is published

Belum ada donasi untuk penggalangan dana ini

Fundraiser

Belum ada Fundraiser

Mari jadi Fundraiser dan berikan manfaat bagi program ini.

Doa-doa orang baik

Menanti doa-doa orang baik

Bagikan melalui:
✕ Close