skip to Main Content
MERAJUT CINTA RAMADHAN 1439 H

MERAJUT CINTA RAMADHAN 1439 H

Merajut Cinta Ramadhan

Alimin Samawa

Sebuah kisah terlontar dari seorang ustadz yang melakukan lawatan Safari Ramadannya ke Indonesia bagian Timur. Ia ke sana untuk membersamai Muslim di sepuluh terakhir Ramadan. Awalnya Ustadz ini ragu, membayangkan medan yang akan ditempuh ke lokasi. Melewati hutan, dan jalan yang berkelok dan menanjak. Beliau bercerita bahwa dulu ada seorang ustadz yang dikirim untuk urusan serupa. Di tengah perjalanan, rombongan safari ustadz bersihadap dengan rombongan penduduk yang baru turun dari hutan. Dengan nafas terengah penduduk itu bertanya tentang “Kapan tiba bulan puasa?”. Di sana tak ada jadwal atau pemberitahuan tibanya waktu Ramadan. Dengan nada bergetar para rombongan menjawab bahwa Ramadan tinggal tujuh hari lagi. Artinya di kampung tersebut belum melaksanakan puasa Ramadan….

Agaknya di tahun-tahun belakangan ini, sangat mudah bagi para penghimpun rindu. Rindu akan pertemuan dengan bulan penuh berkah.  Tak kesulitan lagi untuk menemukan semangat menyambut perjamuan, bulan Ramadan. Apalagi akan menukan cuplikan kisah yang saya tulis di awal tulisan ini. Pasalnya, di era mileneal atau zaman now belakangan ini, broad cast, telegram, dan lainnya telah menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan bermasyarakat.

Firman Allah Subahanahu wa ta’ala “Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa. Sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS Al-Baqarah : 183). Merupakan mantera ampuh menggugah semangat ibadah, sebagai lakon meneruskan tradisi pendahulu,  bentuk ketaatan kepada Allah ‘azzawajalla.

“Sudah sewajarnya puasa diwajibkan atas ummatnya….” Tulis Sayyid Qutb dalam tafsirnya, Fi Zhilalil Qur’an. “Karena puasa merupakan momentum penegakkan kemauan yang kuat dan pasti “. Sambungnya. ” Ia juga Momentum hubungan manusia dengan Tuhannya dalam ketaatan dan kepatuhan. Sebagaimana ia juga merupakan momentum untuk melepaskan diri dari semua kebutuhan jasmani (fisik), demi mengutamakan ridha dan kesenangan yang ada di sisi Allah SWT”.

Telah berlalu sekian banyak Ramadan dalam kehidupan. Himpunan kerinduan itu terbayar saat ia telah berada di hadapan. Hamasah –semangat-para perindu amal saleh berjalin kelindan dengan iklan dan jejeran baligho yang memenuhi ruas jalan, pemberitahuan tentang tibanya waktu puasa, atau sekadar spanduk ucapan Selamat Menunaikan Puasa dari para pejabat publik hingga dari partai politik yang sebentar lagi melaksanakan kontestasi pemilu serentak.

Di tahun politik ini, semoga rajutan kerinduan kepada Ramadan tak terkotori dengan dagelan atau janji-janji yang mengotori kesucian Ramadan. Artinya kita telah benar-benar siap bergabung di dalam madrasanya, sebagaimana dikabarkan bahwa para ulama jauh-jauh hari telah menyiapkan momen Ramadhan enam bulan sebelumnya. Baik persiapan ruhiyah, fikriyah dan juga finansial. Sehingga saat Ramadan tiba, tak ada keraguan atau masalah dalam mengisinya dengan amal-amal saleh. Apalagi tak sadar bahwa Ramadan telah datang.

Agar kerinduan tak hanya di awang-awang. Maka merajut himpunan rindu yang berbuah cinta Ramadan bisa dengan kita menekuri beberapa hal berikut ini :

Pertama, bahwa Ramadan adalah ajang dihapusnya dosa-dosa. Perhatikan Sabda Rasulullah shalallohu ‘alaihi wassalam “Barang siapa berpuasa Ramadan dengan keimanan dan hanya mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. Kedua, di bulan inialah pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup.  “Setibanya Ramadhan, pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaitan dibelenggu” (HR. Abu Hurairah). Ketiga, di bulan ini ada sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan. “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan” (QS Al-Qadr : 3).  Keempat, bahwa orang berpuasa akan masuk surga melalui pintu khusus yang bernama Ar-Royyan, semoga setiap diri dimudahkan.

Tentu setiap insan yang telah memasuki madrasah Ramadan ingin mendapat banyak keistimewaan. Selain yang diguratkan di atas. Namun jika yang dilakukan hanya berniat, tanpa kekuatan daya dorong dari iman yang membaja, maka semuanya tak bermakna apa-apa. Jua tak memperoleh apapun Kecuali lapar dan dahaga. Semoga himpunan kerinduan kepada Ramadan tahun ini terus dipupuk atas keinginan dan rajutan cinta kepada Rabb semesta alam. Hingga Syawal tiba kita benar-benar mendapat ampunan, dan bergelar taqwa.

Wallohualam.